Senin, 14 Juli 2014

Inilah Tanda Kekasih Anda Layak dijadikan Pendamping Hidup


                          


Tulisan ini saya simpulkan dari beberapa literatur psikologi dan pengalaman dalam konsultasi hypnoterapi beberapa pasien yang mengalami banyak masalah rumah tangga. Harapan saya bisa membantu bagi siapapun yang membacanya.


Saat sudah lama berpacaran dan sudah ingin segera menikah, tapi terkadang anda masih ragu apakah sang kekasih benar-benar cocok dengan anda. Menikah itu harusnya untuk selamanya, tapi terkadang banyak orang yang bercerai hanya karena tidak mantap hatinya atau tidak benar-benar mengenal luar dan dalam kekasihnya. Hal ini mungkin bisa banyak membantu anda :

1. Dewasa dalam berpikir dan bersikap. Pada saat menikah, pasti akan banyak masalah yang jauh lebih berat daripada saat pacaran. Saat itulah dibutuhkan sikap dan pemikiran kedewasaan yang ekstra. Dewasa bisa terbentuk bukan karena faktor usia, melainkan melalui input-input dari keluarga dan lingkungan serta kemampuan seseorang untuk memetik hikmah dari persoalan yang pernah dia hadapi. Dewasa bukan harus berarti bersikap seperti orang tua, tapi bisa melihat dan memecahkan semua masalah dengan berorientasi pada solusi. Jikalau sang kekasih belum bisa diajak memecahkan masalah secara dewasa maka sebaiknya anda perlu berpikir ulang untuk menikah dengan si dia.

2. Cobalah uji si dia. Terkadang untuk memantapkan hati kita, tidak ada salahnya untuk menguji sang kekasih. Untuk menjadi pendamping hidup, seseorang harus bisa mengerti sifat pasangannya termasuk sifat yang paling jelek sekalipun. Apa anda bisa bertahan kelak dengan sifat sang kekasih yang paling jelek itu ? Misalnya si doi suka marah, cobalah uji sampai dia benar-benar marah tahap maksimal, dan saat itu anda bisa menilai diri sendiri apa anda bisa mentoleransi itu atau tidak ?

3. Sudah siap lahir dan batin. Menikah bukanlah untuk coba-coba atau sekedar untuk melegalkan hubungan pacaran yang sudah dijalin bertahun-tahun tetapi lebih kepada kedewasaan untuk serius menjalin hidup bersama. Buat pria tentu saja jika sudah mempunyai pekerjaan atau nafkah yang tetap dan memadai adalah sebuah keuntungan. Bagi wanita juga tidak ada salahnya jika mempunyai nafkah sendiri. Usia, pemikiran, pekerjaan, ekonomi, tempat tinggal, mental, emosi adalah hal yang sangat menentukan jika kelak jadi menikah. Kondisi keuangan memang harus dipertimbangkan masak-masak sebelum menikah tetapi ingat uang bukanlah penentu utama bagi sebuah rumah tangga akan langgeng atau tidak kelak.

4. Saling memahami kondisi dan sikap keluarga masing-masing. Pada saat pacaran, biasanya kita akan mengalami berbagai macam bentuk penerimaan dari keluarga pasangan. Ada yang sangat menerima, ada yang masih menimbang-nimbang, dan ada pula yang terang-terangan menolak. Bagi yang menerima dan menimbang-nimbang mungkin tidak akan menjadi masalah besar. Sedangkan bagi yang menolak, itu akan menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk dilalui bersama. Satu hal yang perlu dipahami, masalah dengan keluarga adalah salah satu pemicu perceraian terbanyak. Di sini seorang pria dituntut harus bisa bersikap bijak, adil dan positif dan sang wanita juga harus bisa bersikap tulus, tegar, pengertian dan sabar. Setiap keluarga pada saat genting, pasti akan membela keluarga kandungnya apapun masalahnya. Dalam hal ini sebaiknya jika pasangannya salah, katakanlah salah dan beri nasehat dengan penuh kesabaran. Jika keluarga kandung yang salah, posisikan diri anda di posisi yang netral dan berusaha memberi alasan yang logis dan solutif.

5. Jangan hanya melihat fisik. Mencari pacar pasti ingin yang mempunyai fisik yang enak dipandang. Tapi untuk menikah, hal ini tidaklah mutlak. Fisik biasa, tapi pemikiran dan hati yang cantik, akan jadi pemicu kebahagiaan langgeng dalam rumah tangga. Fisik luar biasa tapi pemikiran dan hati yang sangat kurang, justru akan penyebab masalah dalam rumah tangga.

6. Menikahlah dengan orangnya bukan dengan uangnya. Harta dan kekayaan bisa dihasilkan dari orang yang mempunyai keteguhan, prinsip dan etos kerja yang baik. Tapi sayangnya keteguhan dan prinsip hidup tidak bisa dihasilkan dari harta ataupun kekayaan. Memang di zaman sekarang, uang akan memudahkan segalanya dalam hidup. Tapi bahagia bukan diukur dari berapa banyak uang dipunyai tapi berapa banyak syukur yang anda punyai.

7. Sebaiknya menikahlah dalam satu agama. Agama bisa menjadi penambah keharmonisan dan penuntun dalam rumah tangga. Jika anda memutuskan untuk menikah beda agama, pertimbangkanlah masak-masak segala resikonya termasuk pemilihan agama anak-anaknya nanti. Apabila dalam suatu rumah tangga mempunyai agama yang sama dan kuat, maka masalah yang datang dapat ditenangkan dengan prinsip keagamaan yang dianut.

8. Sebelum menikah ada baiknya tes kesehatan premarital, meminta nasehat konsultan pernikahan ataupun orang sudah lama menikah dan ataupun dari orang tua sendiri.

9. Menikahlah berdasarkan saling mencintai apa adanya. Cinta bisa menjadi dasar seseorang merasakan kebahagiaan. Satu hal yang perlu diingat adalah menikah adalah untuk mencari bahagia bukan untuk kesenangan sesaat. Menikah adalah untuk merengkuh kebahagiaan bagi berdua, bukan hanya sebelah pihak. Jika menikah hanya sebagai kewajiban, memenuhi permintaan orang tua, atau karena terpaksa dan tidak ada pilihan lain, maka sebaiknya pertimbangkan lagi keputusan itu sebelum menyakiti perasaan orang lain atau banyak pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar